- Home »
- SPESIAL: Roller Coaster Manchester United Di Era David Moyes [Goal.com]
Unknown
On Selasa, 22 April 2014
Simak lini masa karier singkat tapi tak memuaskan dari seorang David Moyes bersama Manchester United.
Selesai sudah sepuluh bulan penuh tekanan David Moyes di Manchester United. Selasa (22/4) ini, manajer berusia 50 tahun ini resmi didepak oleh manajemen Setan Merah setelah melakoni periode menyulitkan sepanjang musim 2013/14.
Pemecatan ini dilakukan menyusul kekalahan 2-0 dari Everton yang ironisnya merupakan klub yang sepuluh tahun lebih dilatih Moyes. United pun terpuruk di posisi ketujuh klasemen Liga Primer Inggris dengan musim menyisakan empat partai dan masih terpaut 13 poin di belakang urutan empat besar. Alhasil, United dipastikan gagal lolos ke Liga Champions untuk pertama kali sejak 1995 dan juga akan finis di luar tiga besar untuk pertama kali sejak era Liga Primer.
Sepanjang musim, United gagal menunjukkan tajinya sebagai klub adidaya seperti di era Sir Alex Ferguson, pendahulunya yang menunjuk langsung Moyes pada Mei tahun lalu. Tapi, seperti sebuah kehidupan, karier singkat Moyes berputar seperti roda, kadang di bawah kadang di atas.
Untuk itu, Goal Indonesia mencoba menilik masa-masa 'roller coaster' pria bernama lengkap David William Moyes ini selama sepuluh bulannya di United - mulai dari tampil jeblok di Old Trafford hingga sempat mencatatkan diri sebagai tim dengan catatan tandang terbaik di EPL musim ini. Simak!
BAIK-BAIK SAJA
Segalanya tampak baik-baik saja ketika Moyes dan Robin van Persie berpose bersama trofi pertamanya menyusul kemenangan 2-0 atas Wigan Athletic di Community Shield pada Agustus lalu. Setelah itu, Red Devils mengawali EPL musim 2013/14 dengan kemenangan 4-0 atas Swansea City. Moyes tak bisa meminta lebih soal hasil dua partai ini. Masa depan sang suksesor Sir Alex ini tampak cerah.
KEKALAHAN PERTAMA
Moyes terjatuh untuk pertama kalinya sebagai bos United hanya dalam tiga partai pertamanya di EPL. Adalah sang rival abadi Liverpool yang membuat United takluk 1-0 di Anfield pada 1 September. Kita masih belum bisa menebak kelanjutan cerita ini. Hingga sampai periode krusial April ini, barulah kita tahu bahwa kedua klub dan pelatih ini menuju ke arah yang berlawanan.
BENCANA DERBY DAN DIPERMALUKAN WBA
Hanya beberapa hari setelah mencatatkan kemenangan perdana di Liga Champions (menang 4-2 atas Bayer Leverkusen), Moyes membawa United takluk 4-1 dari Manchester City. United lalu bangkit dengan menyingkirkan Liverpool di Piala Liga, tapi kembali takluk 2-1 secara mengejutkan dari West Bromwich Albion. Untuk pertama kali, rumor pemecatan Moyes muncul.
JANUZAJ SANG PENYELAMAT
Akhirnya, Moyes punya ruang bernapas lega berkat kegemilangan debutan muda bernama Adnan Januzaj. Dua golnya ke gawang Sunderland menandai comeback gemilang di Stadium of Light guna mengamankan tiga poin krusial. Moyes mendapat pujian karena mampu menaruh kepercayaan kepada Januzaj sekaligus mengorbitkan sang wonderkid.
AKHIRNYA MEMUASKAN DI KANDANG
Setelah mendapat hasil kandang mengecewakan dari Southampton, United akhirnya menemukan performa terbaik di Old Trafford dengan mencatat empat kemenangan berturut-turut di semua kompetisi, termasuk hasil 1-0 kontra Arsenal via sundulan Robin van Persie. Ini adalah kali pertama Moyes mulai melepas tekanan yang ada di pundaknya.
LANGSUNG JEBLOK LAGI
Saat mengandaskan Leverkusen 5-0 untuk lolos ke knock-out UCL, situasi tumbuh semakin cerah. Akan tetapi, Moyes harus menanggung malu ketika Roberto Martinez, suksesornya di Everton, meraih hasil yang tidak pernah didapatkannya bersama The Toffees: kemenangan di Old Trafford. Tiga hari berikutnya, United kembali takluk 1-0 di tempat yang sama, kali ini dari Newcastle. Skeptisme kian merebak.
ENAM KALI BERUNTUN
Tekanan yang ada kembali terbebas menyusul enam kemenangan berturut-turut yang diraih United di semua kompetisi, termasuk kemenangan atas Shakhtar Donetsk yang memastikan United sebagai pemuncak Grup A Liga Champions. Harapan untuk finis di urutan empat besar EPL terus membuncah.
JANUARI PILU
United yang tengah dirasuki optimisme tinggi pasca pergantian tahun, lagi-lagi harus terjatuh setelah menelan tiga kekalahan beruntun dengan skor identik, 2-1. Setelah dikalahkan Tottenham di EPL, giliran Swansea dan Sunderland yang membuat United merana di Piala FA dan Piala Liga. Posisi Moyes sekali lagi terancam.
FLUKTUASI DAN TRAGEDI YUNANI
Performa naik-turun United terus berlanjut. Alarm berdering paling keras ketika United tampil sangat, sangat buruk saat ditekuk tuan rumah Olympiakos 2-0 dalam leg pertama 16 besar Liga Champions. Untungnya, di pertemuan kedua United sanggup membalas seiring kemenangan 3-0 di Old Trafford, membalikkan keadaan, dan melaju ke perempat-final.
AWAL DARI AKHIR
United, secara memalukan, mengalami dua kekalahan kandang berturut-turut dengan skor 3-0, yakni kala takluk dari Liverpool yang dilanjutkan kekalahan dari Manchester City. Kemenangan rival abadi dan rival sekota United tersebut benar-benar membuat posisi Moyes semakin di ujung tanduk. Inilah titik awal dari akhir era Moyes.
SECUIL HARAPAN TERAKHIR
Moyes, yang tampak seperti mayat hidup berjalan, terus menghindari pemecatan ketika mampu membawa United menahan imbang 1-1 sang jawara bertahan Liga Champions Bayern Munich di leg pertama perempat-final. Dilanjutkan dengan kemenangan impresif 4-0 atas tuan rumah Newcastle, menjadikan United sebagai tim dengan catatan tandang terbaik di EPL. Masih ada harapan!
PAMUNGKAS
Usai tereliminasi dari Liga Champions, Moyes punya waktu sepuluh hari untuk kembali fokus ke EPL sebagaimana ia akan 'pulang kampung' ke Goodison Park untuk menghadapi Everton. Nyatanya, United keok 2-0 dan inilah laga pamungkas Moyes yang ironisnya terjadi di tempat yang pernah melambungkan namanya. Bye!